SEJARAH DALAM PENGERTIAN DAN KEGUNAANNYA SEBAGAI ILMU

Posted: 14th December 2010 by agon ballor in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Dalam pembahasan ini sebelum kita berbicara mengenai Ilmu Sejarah ada baiknya kita melihat dulu bagai mana Ilmu dan Sejarah itu berkembang. Pada mulanya ilmu yang dikembangkan manusia hanya satu yaitu filsafat dimana manusia mengalami suatu persoalan hidup dimana manusia merasa heran, sangsi dan sadar akan keterbatasannya sebagai manusia. Hal ini akhirnya mendorong manusia untuk berpikir secara ilmiah (Filsafat). Setelah manusia berfilsafat ternyata masalah yang dihadapinya semakin rumit dan kompleks sehingga tidak bisa dijawab dengan cara filsafat[1].

Lambat laun muncullah cabang-cabang ilmu termasuk Ilmu Sejarah, ilmu ini terikat pada prosedur penelitian ilmiah dan penalaran yang bersandar pada fakta (bahasa latin Factus berarti apa yang sudah selesai). Kebenaran ilmu sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap sejarah secara objektif[2].

  1. B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang kelompok kemukakan berdasarkan latar belakang diatas ialah:

  1. Apa Pengertian Ilmu Sejarah?
  2. Bagaiaman Kedudukan Ilmu Sejarah?
  3. Apa Kegunaan Ilmu Sejarah?
  4. Nilai-nilai Apa Saja Yang Dapat Diperoleh Dari Pembahasan Makalah Ini?
  1. C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan yang kelompok kemukakan berdasarkan masalah-masalah yang akan dibahas adalah:

  1. Untuk menjelaskan pengertian Ilmu Sejarah.
  2. Untuk menjelaskan kedudukan Ilmu Sejarah.
  3. Untuk menjelaskan kegunaan Ilmu Sejarah.
  4. Untuk menemukan nilai-nilai universal dalam pembahasan makalah ini.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1. Pengertian Ilmu Sejarah

Dalam pengertiannya Ilmu sejarah dibagi menjadi dua pengertian yaitu pengertian secara negatif dan pengertian secara positif. Jadi apakah sejarah itu? Untuk menjawab pertanyaan tentang karakteristik Ilmu Sejarah, disini akan diuraikan pengertian sejarahh secara negatif terlebih dahulu.

A. Pengertian Ilmu Sejarah Secara Negatif

Sejarah Bukan Mitos. (Dalam bahasa Yunani mythos berarti dongeng). Sama-sama menceritakan masa lalu sejarah berbeda dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan tidak jelas dan kejadian-kejadiannya tidak masuk akal untuk orang-orang masa sekarang. Mitos bersama dengan nyanyian, mantra, syair, dan pepatah termasuk tradisi lisan. Tradisi lisan ini dapat menjadi sejarah, asal ada sumber sejarah lain. Barangkali untuk masyarakat yang belum mengenal tulisan, misalnya masyarakat lama yang berada di Timor Timur, Dayak, Papua, dll masyarakat akan mengandalkan diri pada tradisi lisan dalam penulisan sejarah. Untuk melacak asal usul kebudayaan mereka. Semua sumber itu sah sifatnya, asal prosedur penelitian sejarah diterapkan.

Sejarah Bukan Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh sebagai pengetahuan yang tidak ilmiah bila berhubungan dengan filsafat. Ada dua kemungkinan penyalahgunaan sejarah oleh filsafat yaitu: Sejarah dimoralkan dan Sejarah sebagai ilmu yang konkrit dapat menjadi filsafat yang abstrak. Filsafat itu abstrak (bahasa latin abstractus berarti pikiran), dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum. Kalau sejarah berbicara tentang manusia, maka yang dibicarakan ialah orang tertentu yang mempunyai tempat dan waktu serta terlibat dalam kejadian. Filsafat, sebaliknya, kalau ia berbicara tentang manusia, maka manusia itu ialah manusia pada umumnya, manusia yang hanya ada dalam gambaran angan-angan.

Sejarah Bukan Ilmu Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau Human Studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah kedalam ilmu-ilmu sosial (Social Scineces) dan ilmu kemanusiaan (Humanities). Orang sering membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu manusia. Di satu pihak ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial tertentu bertujuan menentukan hukum-hukum yang umum, atau bersifat nomothetis (bahasa Yunani nomo berarti hukum, dan tithenai berarti mendirikan), sedangkan sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang khas atau bersifat ideografis (bahasa Yunani Idio berarti ciri-ciri seseorang, dan graphein berarti menulis; sering juga disebut ideografis, bahasa Yunani Idea berarti pikiran dan graphein berarti sebab. Jadi sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku).

Sejarah Bukan Sastra. Sejarah berbeda dengan sastra setidaknya dalam empat hal yaitu: cara kerja, kebenaran, hasil dan kesimpulan. Dari cara kerjanya, sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana yang dimengerti oleh pengarangnya. Dari kebenarannya bagi pengarang secara mutlak ada di bawah kekuasaannya, dengan kata lain pengarang akan bersikap subjektif dan tidak ada yang mengikatnya. Dari hasilnya hanya menuntut supaya pengarang taat atas dunia yang dibangunnya sendiri dan dari kesimpulannya, bisa saja sastra justru berakhir dengan sebuah pertanyaan. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh sejarah. Sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.

B. Pengertian Ilmu Sejarah Secara positif

Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Jadi sejarah dalam pengertian yang positif adalah:

Sejarah adalah ilmu tentang manusia. Sejarah disini hanya akan mengurusi manusia masa kini. Ada persetujuan tidak tertulis antara arkeolog dan sejarah di Indonesia yang sampai sekarang pada umumnya masih berlaku. Sejarah akan meneliti peristiwa-peristiwa sesudah 1500. Tetapi manusia masa kini akan menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial sesuai dengan minat utamanya, seperti sosiolog, ilmu politik dan antropologi.

Sejarah adalah ilmu tentang waktu. Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah ialah ilmu tentang waktu. Apa yang dapat dibicarakan tentang waktu? Dalam waktu terjadi empat hal yaitu: Perkembangan, Kesinambungan, Pengulangan dan Perubahan. Dalam hal perkembangan sejarah akan melihat dan mencatat kejadian atau peristiwa yang menunjukan terjadinya perubahan dalam masyarakat dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Biasanya masyarakat akan berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks. Contoh: perubahan kehidupan manusia dari masa berburu dan meramu berubah kearah masa bercocok tanam dan berubah lagi menjadi masa perundagian dimana dari perubahan satu masa ke masa lainnya menunjukkan adanya perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada saat itu. Dalam hal kesinambungan sejarah mengkaji bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi dari lembaga-lembaga lama. Contoh: kebijakan kolonial bangsa Belanda di indonesia dengan menarik upeti kepada daerah-daerah kekuasaannya, Belanda dalam hal ini hanyalah meniru dari raja-raja pribumi. Dalam hal pengulangan sejarah mengkaji peristiwa-pristiwa yang telah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa sekarang. Munculnya kaum kapitalis yang meresahkan dan menimbulkan banyak protes sosial dari masyarakat. Sekarang kaum kapitalis muncul lagi dan kembali menimbulkan protes sosial dari masyarakat. Dalam hal perubahan terjadi apa bila masyarakat mengalami pergeseran, sama dengan perkembangan. Akan tetapi, asumsinya ialah adanya perkembangan besar-besaran dan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya perubahan terjadi oleh karena pengaruh dari luar. Contoh: Gerakan Paderi di Sumatra Barat yang menentang kaum adat sering diangap sebagai hasil pengaruh Gerakan Wahabi di Arab yang di tularkan lewat para haji yang pulang dari Mekah.

Sejarah adalah ilmu tentang makna sosial. Sejarah memberi pengetahuan tentang pemaknaan sosial dalam masyarakat. Misalnya suatu peristiwa yang mungkin biasa-biasa saja dapat menjadi begitu penting bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Contoh: kedatangan para haji mungkin peristiwa biasa. Akan tetapi, kedatangan para haji di tahun 1888 menjadi sangat penting karena merekalah yang mengobarkan pemberontakan para petani di Banten[3].

Jadi apakah sejarah itu? sejarah adalah hasil rekontruksi dari masa lalu untuk menata masa depan. Kita belajar sejarah bukan untuk kepentingan masa lalu tetapi untuk melihat dan mengetahui peristiwa-peristiwa dimasa lalu agar menjadi pelajaran di masa depan.

  1. 2. Kedudukan Ilmu Sejarah

Kedudukan sejarah merupakan cara pandang yang dapat kita lakukan dalam melihat sejarah. Kedudukan sejarah dapat dilihat dalam empat hal:

  1. 1. Sejarah sebagai peristiwa

Sejarah sebagai peristiwa adalah kejadian sejarah itu sendiri, atau proses terciptanya sejarah itu sendiri. Dalam bahasa Perancis dikatakan “realite historie” atau realitas sejarah atau sejarah yang sebenarnya. Peristiwa sejarah tidak akan pernah terulang, dan hanya satu kali terjadi. Kenapa demikian? Tentu saja karena peristiwa itu terikat oleh ruang dan waktu yang tidak pernah mundur, melainkan selalu dalam gerak maju. Seketika peristiwa terjadi, maka satu detik kemudian peristiwa tersebut telah berlalu. Oleh karena itu, sejarah sebagai perisitiwa tidak dapat kita hadirkan kembali.

Lalu bagaimana dengan sejarah yang kita pelajari sekarang? Nah, karena hanya sekali terjadi, sejarah sebagai peristiwa meninggalkan jejak-jejak sejarah, atau disebut sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber tersebut dapat berupa foto, berita surat kabar, tulisan, benda-benda, dan saksi mata. Dari jejak-jejak tersebut itulah disusun kembali (ingat rekonstruksi sejarah!) sejarah yang dibuat mendekati peristiwa sebenarnya.

  1. 2. Sejarah sebagai kisah

Sejarah sebagai kisah merupakan kelanjutan dari sejarah sebagai peristiwa. Sejarah sebagai kisah berusaha merangkai (me-rekonstruksi) jejak-jejak sejarah menjadi sebuah narasi ataupun deskripsi yang utuh. Sejarah sebagai kisah dapat berbeda-beda cara penyampaiannya, namun semua cara tersebut tetap menggunakan sumber-sumber yang sama. Banyaknya buku-buku sejarah bertema serupa menunjukkan sejarah sebagai kisah yang beragam pula.

  1. 3. Sejarah sebagai seni

Bagaimana mungkin sejarah dapat dilihat sebagai seni? Nah, sebelumnya kita sudah melihat sejarah sebagai peristiwa dan sejarah sebagai kisah. Dalam proses sejarah sebagai peristiwa menjadi sejarah sebagai kisah, ada proses merangkai sumber-sumber sejarah. Sumber-sumber yang terpisah-pisah tersebut harus dilekatkan, harus dihubungkan sehingga menjadi saling terkait. Dalam proses itulah, muncul sejarah sebagai seni. Setidaknya ada empat kepentingan sehingga sejarah dapat dilihat menyerupai kerja seorang seniman:

  1. a. Sejarah memerlukan intuisi

Intuisi merupakan pemahaman yang bersifat instingtif (insting/naluri). Dalam merangkai sumber-sumber sejarah yang tersebar, sejarawan terkadang harus memainkan intusisinya untuk menarik kemungkinan-kemungkinan dalam menghubungkan berbagai sumber. Hal ini disebabkan karena sumber sejarah terkadang, secara kasat mata, tampak tak berhubungan. Untuk menghubungkan hal tersebut, sejarawan memerlukan intuisi.

  1. b. Sejarah memerlukan imajinasi

Sejarawan tidak mempunyai mesin waktu Doraemon, ataupun ikat pinggang waktu. Oleh karena itu sejarawan tidak pernah dapat hadir kembali ke masa lalu untuk melihat sebuah peristiwa sejarah. Nah, di sinilah sejarawan memerlukan imajinasi untuk membayangkan bagaimana sebuah peristiwa sejarah dapat terjadi. Dengan imajinasi, sejarawan dapat menganalisis dam merangkai banyak sumber dengan lebih baik.

  1. c. Sejarah memerlukan emosi

Sejarah berguna sebagai alat pendidikan. Polybios mengatakan “history is philosophy teaching by example”, sejarah mengajarkan dengan contoh-contoh. Dengan demikian sejarah harus mampu menyampaikan sebuah peristiwa sejarah dengan baik, sehingga pembaca dapat mengalami, merasakan, dan menghayati sebuah peristiwa sejarah. Di sinilah, sejarah memerlukan emosi agar peristiwa sejarah dapat dilukiskan dan membawa pengaruh nilai-nilai bagi pembacanya.

  1. d. Sejarah memerlukan gaya bahasa

Gaya bahasa terkait dengan sejarah sebagai emosi. Dalam rangka menuangkan narasi sejarah agar benar-benar membawa pengaruh bagi pembacanya, maka sejarah menggunakan gaya bahasa. “Dengan gegap gempita rakyat Indonesia menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia”. Gegap gempita merupakan gaya bahasa yang berusaha menggambarkan begitu bersemangat dan bahagianya rakyat menyambut kemerdekaan. Gaya bahasa mutlak diperlukan dalam penulisan  sejarah modern ini, hal ini dikarenakan sejarah memang merupakan alat pendidikan nilai-nilai yang harus disampaikan dengan baik.

  1. 4. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan

Sejarah juga harus dilihat sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah. Pada posisi ini, meskipun sejarah dapat dilihat sebagai seni, namun sejarah tetaplah sebuah ilmu pengetahuan yang mempunyai metodologi ilmiah yang bertanggung jawab. Dengan demikian sejarah tidak dapat disamakan dengan sastra. Penelitian sejarah secara mutlak harus berdasarkan fakta sejarah yang dapat dipercaya.

  1. 3. Kegunaan Ilmu Sejarah

Kegunaan secara instrinsik (dilihat ke dalam), merupakan kegunaan yang langsung dapat kita lihat dan rasakan ketika terlibat dalam sejarah :

  1. a. Sebagai ilmu

Tahukan kalian apa itu Ilmu Pengetahuan? Ilmu Pengetahuan adalah jawaban teoritis terhadap masalah manusia. Jadi ilmu yang banyak kalian pelajari, bukanlah sebuah paksaan, karena tujuan akhirnya kalian sebagai orang terdidik harus mampu memecahkan berbagai masalah kehidupan ini. Demikian pula ilmu sejarah, karena sebagai ilmu, sejarah pun berbagi dengan ilmu lain untuk memecahkan masalah kehidupan ini. Sejarah ingin memecahkan masalah manusia yang terkait dengan masa lalu, yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Karena sebagai ilmu, sejarah tentu saja menggunakan metode penelitian ilmiah, yang bertanggung jawab, dan terukur. Sehingga ilmu sejarah, tidak terperosok menjadi pendapat semata, yang menyesatkan.

  1. b. Sebagai cara mengetahui masa lampau

Sejarah adalah ilmu tentang peristiwa masa lalu. Dengan demikian, sejarah akan mendayagunakan metode ilmiahnya untuk dapat mengetahui masa lalu. Masa lalu harus terpecahkan! Ilmu sejarah membantu kita memahami berbagai peristiwa yang mempengaruhi peradaban umat manusia sepanjang masa. Untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sekarang, manusia harus berdialog dengan masa lalu. Itulah salah satu kegunaan sejarah. Belajar sejarah dengan baik akan membantu kita menemukan jati diri, karakter dan kebanggan bangsa Indonesia.

  1. c. Sebagai pernyataan pendapat

Banyak penulis yang menyatakan pendapatnya dengan menggunakan sejarah sebagai latar belakang. Kalian dapat bukatikan itu di koran-koran, pidato-pidato, atau bahkan ketika kalian berdebat dengan teman kalian, pasti berpikir tentang masa lalu terjadi. untuk menyelesaikan masalah saat ini, kita harus melihat dulu masa lalu. Kita harus mempelajari apa sebenarnya kesalahan yang terjadi di masa lampau. Selain itu kita juga bisa mencoba strategi-strategi kehidupan yang berhasil di masa lalu. Sejarah dapat memberikan gambaran dan pengalaman-pengalaman yang berguna pada masa kini dan masa yang akan datang.

Dengan demikian, barulah kita bisa memberi saran, pendapat, bagi manusia saat ini. Pendapat tersebut berupa usulan-usulan agar kesalahan-kesalahan yang lalu tidak terulangi dan prestasi-prestasi di masa lalu dapat diulangi.

  1. d. Sebagai profesi

Sejarah berguna juga, bagi yang mendalaminya, kalau tidak tentu kasihan sekali para sejarawan, tidak berpenghasilan, dan tidak dapat eksis di kehidupan ini. Menekuni sejarah selain dapat manfaat di atas, juga dapat sebagai mata pencaharian, sebagai profesi yang dapt diandalkan dan bergengsi.

Ada banyak profesi yang berkenaan dengan sejarah. Menjadi guru sejarah salah satunya, karena di seluruh dunia ini, pelajaran sejarah selalu ada. Bahkan para bangsawan di Eropa, konon harus mendapat pelajaran sejarah setingkat S1 sebelum mereka dianggap dewasa. Menjadi guru sejarah menyenangkan sekali, bisa membawa kita dan anak didik terbang ke imajinasi, melintasi batas-batas wilayah.

Selain itu, kita bisa menjadi sejarawan ataupun arkeolog. Tahu Indiana Jones? Atau film “National Treasure”? Menyenangkan sekali bisa berpetualang mencari kisah-kisah baru, dan membuka misteri masa lalu. Di luar negeri profesi sejarawan itu sangat istimewa, karena di tangan merekalah sejarah suatu bangsa bergantung. Sayang sekali, di Indonesia keberpihakan terhadap sejarah sangat kurang. Masih banyak kisah masa lalu Indonesia yang belum terungjap.

Selain itu ada profesi lain seperti: penulis sejarah, peneliti purbakala, pemandu museum dan monumen, serta pegawai balai kajian sejarah dan pegawai arsip sejarah.

Di luar profesi itu, sejarah juga banyak membantu kita dalam profesi: wartawan, pekerja budaya, seniman, politikus (untuk mempelajari kebiajakn di masa lalu), pemandu wisata/ guide tour, penulis sastra (novelis dan cerpenis), sosiolog, antropolog, ekonom, semuanya memerlukan pengetahuan sejarah yang kuat untuk memperkuat kajiannya.

  1. 1. Kegunaan sejarah secara ekstrinsik

Kegunaan secara ekstrinsik (dilihat ke luar), merupakan kegunaan tidak langsung, yang bila kita renungi, kita resapi, maka sejarah akan berguna pada beberapa hal dalam kehidupan yaitu sebagai berikut:

  1. a. Sebagai pendidikan penalaran

Belajar sejarah itu perlu berpikir, perlu logika. Sejarah harus dilihat dalam hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang ada dalam setiap peristiwa sejarah. Ibaratkan pepatah “ada asap ada api”, “ada gula ada semut”, sejarah selalu mendorong peneliti dan pembacanya untuk menemukan sebab dari sebuah peristiwa. Hal ini menyebabkan belajar sejarah harus membuat orang berpikir plurikausal (pluri=banyak; kausal=sebab).

Dengan belajar sejarah, secara tidak langsung kita juga akan kritis dalam memandang sehala sesuatu. Oleh sebab itu sejarah dapat dikatakan, secara tidak langsung menjadi pendidikan penalaran (nalar=berpikir dengan kaidah yang benar).

Alasan ini pula yang mengidentikkan belajar sejarah dengan kebijaksanaan dan menjadi kuliah wajib bagi para keluarga bangsawan di Inggris. Tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Jawaharlal Nehru, Mahatma Gandhi, F.D. Roosevelt, Winston Churchil, Kennedy dan banyak tokoh besar lainnya adalah pencinta sejarah. Jika suatu saat kalian nanti menjadi tokoh besar, ingatlah perkataan saya “sejarah itu penting dan berguna”, dan buktikan apa saya benar atau salah.

  1. b. Sebagai pendidikan politik

Ada pernyatan umum yang mengatakan, sejarah itu adalah sejarah tentang politik. Sejarah banyak sekali membahas mengenai sejarah politik, bahkan selama ini sejarah selalu identik dengan politik. Dari jaman suku-suku kecil, kerajaan-kerajaan, hingga terbentuknya negara modern, semua dipelajari dalam sejarah. Para politikus dan organisasi-organisasi massa belajar sejarah untuk mengkaji kebijakan-kebijakan di masa lalu. Misalnya kebijakan ekonomi harus melihat sejarah perekonomian suatu bangsa, sehingga kegagalan-kegagalan dapat diminimalisir.

Dalam hal ini, sejarah secara tidak langsung juga menjadikan pembacanya, penelitinya mengerti tentang politik, sejarah menjadi pendidikan politik.

  1. c. Sebagai pendidikan perubahan

Bagaimana perkembangan (sejarah) hidupmu? Yah, kamu dulu hanya bayi kecil yang bergantung pada ibu, lalu kamu remaja, dewasa, dan nantinya tua juga. Sejarah juga belajar tentang perkembangan tersebut, dari awal dulu, hingga sekarang, dan ternyata dunia selalu berubah. Belajar sejarah, berarti juga belajar untuk berubah, belajar untuk bergerak, dan melakukan pembaharuan.

Sejarah tidak hanya mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa lalu saja. Sejarah sebagai kisah nyata pengalaman hidup manusia dapat digunakan untuk memprediksi dan mengantisipasi kejadian berikutnya/masa depan yang memiliki kecenderungan yang sama. Sehingga secara tidak langsung, sejarah mengajak kita untuk “Berubah!”, memperbaiki yang kurang, dan meningkatkan yang lebih. Mari kita berubah!

  1. 4. Nilai-nilai universal
    1. a. Nilai Ilmu Pengetahuan

Banyak contoh sejarawan bukanlah orang yang memang terdidik untuk menjadi sejarawan, tetapi penulis sejarah dapat datang dari mana saja. Sejarah merupakan ilmu yang terbuka. Kenyataannya sejarah banyak mengunakan bahasa sehari-hari, keterbukaan itulah membuat siapa saja dapat memperoleh dan mengambil ilmu pengetahuan dari sejarah.

  1. b. Nilai Kerjasama

Ilmu Sejarah merupakan ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri ia perlu ilmu-ilmu lain untuk menyempurnakan hasil kajiannya agar dapat diterima dan mudah dipahami. Dari penjelasan tersebut ternyata untuk ilmu-ilmu pengetahuan yang ada tidak dapat berdiri sendiri, harus ada kerjasama antara ilmu-ilmu.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Sutarjo Adisusilo,J.R. 2010. Filsafat Ilmu Pengetahuan Suatu Pengantar. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Dr. Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.


[1]Drs. Sutarjo Adisusilo,J.R. 2010. Filsafat Ilmu Pengetahuan Suatu Pengantar. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, hal.11

[2] Dr. Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, hal.12

[3] Dr. Kuntowijoyo, op. Cit., hal.7